Senin, 03 Desember 2012

JARINGAN TUMBUHAN


 
JARINGAN TUMBUHAN 
(Laporan Praktikum Biologi Pertanian)








Oleh :
Fahru Baharudin Asnawi
EID312043
                                                                       Kelompok IV







PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2012 



 
 

PENDAHULUAN
Latar belakang
            Dalam dunia tumbuhan, 420jt tahun yang lalu muncul tumbuhan darat. Sejak itu tumbuhan darat berevolusi dengan cepat serta mengembangkan struktur yang lebih rumit dibandingkan dengan alga, yakni membentuk jenis sel, jaringan dan organ.
            Secara umum dunia tumbuhan dibagi menjadi tumbuhan berpembuluh (Tracheophyta) dan tumbuhan yang tidak berpembuluhan (Thallophyta). Tumbuhan berpembuluh dibagi menjadi 2 kelompok, yang pertama mempunyai alat reproduksi tersembunyi sebagaimana di temukan pada paku-pakuan. Kelompok kedua mencakup tumbuhan berbiji atau spermatophyta. Tumbuhan berbiji atau spermatophyta dibagi menjadi 2 yaitu tumbuhan berbji terbuka (Gymnospermae) dan tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae). Angiospermae merupakan kelompok tumbuhan yang paling akhir muncul. Tumbuhan ini membentuk bagian utama dari vegetasi alam dan yang dibudidayakan di bumi.
            Tumbuhan terdiri atas banyak lapisan sel, dan dibedakan atas berbagai fungsi kegiatan hidup. Sel-sel yang memiliki bentuk, susunan dan fungsi yang sama disebut jaringan.
Jaringan dalam biologi adalah sekumpulan sel yang memiliki bentuk dan fungsi yang sama. Jaringan dipelajari dalam cabang biologi yang dinamakan histologi, sedangkan cabang biologi yang mempelajari berubahnya bentuk dan fungsi jaringan dalam hubungannya dengan penyakit adalah histopatolog.
Jaringan dimiliki oleh organisme yang telah memiliki pembagian tugas untuk setiap kelompok sel-selnya. Organisme bertalus, seperti alga ("ganggang") dan fungi ("jamur"), tidak memiliki perbedaan jaringan, meskipun mereka dapat membentuk struktur-struktur khas mirip organ, seperti tubuh buah dan sporofor. Tumbuhan lumutdapat dikatakan telah memiliki jaringan yang jelas, meskipun ia belum memiliki jaringan pembuluh yang jelas. 
Tujuan
            Tujuan dari pratikum ini adalah untuk mengenal beberapa jaringan pada tumbuhan Angiospermae.





 
TINJAUAN PUSTAKA
            Pada awal perkembangan tumbuhan, semua sel melakukan pembelahan diri. Akan tetapi, pada pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya, pembelahan sel menjadi terbatas hanya di bagian khusus dari tumbuhan. Jaringan khusus tersebut tetap bersifat embrionik dan selalu membelah diri. Jaringan embrionik ini disebut meristem. Pada dasarnya, pembelahan sel dapat pula berlangsung pada jaringan lain selain meristem, seperti pada korteks batang, tetapi pembelahannya sangat terbatas.
            Struktur tubuh tumbuhan tingkat tinggi pada umumnya terdiri atas organ pokok yaitu akar, batang dan daun. Organ tersusun oleh beberapa jaringan, dan jaringan disusun oleh beberapa sel yang mempunyai bentuk, struktur, serta fungsi yang sama. Berdasarkan kemampuan sel membelah jaringan pada tumbuhan dibedakan menjadi dua yaitu :
1.      Jaringan meristem
Jaringan meristem adalah jaringan pada tumbuhan yang selalu mengalami pembelahan diri secara terus menerus. Berdasarkan posisinya dalam tubuh tumbuhan, meristem dibedakan menjadi tiga, yaitu:
a.       Meristem apikal, terdapat di ujung pucuk utama dan pucuk lateral serta ujung akar.
b.      Meristem interkalar, terdapat di antara jaringan dewasa, contohnya meristem pada pangkal ruas tumbuhan anggota suku atau family rumput-rumputan.
c.       Meristem llateral,, terletak sejajar dengan permukaan organ tempat ditemukannya. Contohnya  adalah cambium dan cambium gabus (felogen).
Berdasarkan asal-usulnya, meristem dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
a.       Meristem primer, sel-selnya berkembang langsung dari sel-sel embrionik (contoh: meristem apikal). Kegiatan jaringan meristem primer menimbulkan batang dan akar bertambah panjang. Pertumbuhan jaringan meristem primer disebut pertumbuhan primer.
b.      Meristem sekunder, sel-selnya berkembang dari jaringan dewasa yang sudah mengalami diferensiasi. Contohnya adalah kambium dan kambium gabus. Kegiatan jaringan meristem menimbulkan pertambahan besar tubuh tumbuhan. Aktivitas kambium menyebabkan pertumbuhan skunder, sehingga batang tumbuhan menjadi besar . Ini terjadi pada tumbuhan dikotil dan Gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka). Pertumbuhan kambium kearah luar akan membentuk kulit batang, sedangkan kearah dalam akan membentuk kayu. Pada masa pertumbuhan, pertumbuhan kambium kearah dalam lebih aktif dibandingkan pertumbuhan kambium kearah luar, sehingga menyebabkan kulit batang lebih tipis dibandingkan kayu.
2.      Jaringan permanen (jaringan dewasa)
Jaringan permanen atau jaringan dewasa adalah jaringan yang sudah mengalami diferensiasi. Sifat-sifat jaringan dewasa antara lain:
·        Tidak mempunyai aktivitas untuk memperbanyak diri
·        Mempunyai ukuran sel yang relatif besar dibandingkan sel-sel meristem
·        Mempunyai vakuola besar, sehingga plasma sel sedikit dan merupakan selaput yang menempel pada dinding sel
·        Kadang-kadang selnya telah mati
·        Selnya telah mencapai penebalan dinding sesuai dengan fungsinya
·        Di antara sel-selnya dijumpai ruang antarsel
Jaringan permanen atau jaringan dewasa di bedakan atas :
1.      Jaringan pelindung
a.       Jaringan epidermis
Epidermis merupakan jaringan paling luar yang menutupi permukaan organ tumbuhan, seperti: daun, bagian bunga, buah, biji, batang, dan akar. Fungsi utama jaringan epidermis adalah sebagai pelindung jaringan yang ada di bagian sebelah dalam. bentuk, ukuran, dan susunan, serta fungsi sel epidermis berbeda-beda pada berbagai jenis organ tumbuhan. Ciri khas sel epidermis adalah sel-selnya rapat satu sama lain membentuk bangunan padat tanpa ruang antar sel. Dinding sel epidermis ada yang tipis, ada yang mengalami penebalan di bagian yang menghadap ke permukaan tubuh, dan ada yang semua sisinya berdinding tebal dan mengandung lignin. Sel-sel epidermis dapat berkembang menjadi alat tambahan atau derivate epidermis, misalnya stoma, trikoma, sel kipas, sistolit, dan sel silica.
            b.      Jaringan gabus
Dinding selnya mengandung suberin, sel mati dan kosong. Berfungsi untuk protektif atau pelindung.
2.      Jaringan Parenkim
Jaringan parenkim terdiri atas kelompok sel hidup yang bentuk, ukuran, maupun fungsinya berbeda-beda. Sel-sel parenkim mampu mempertahankan kemampuannya untuk membelah meskipun telah dewasa sehingga berperan penting dalam proses regenerasi.Sel-sel parenkim yang telah dewasa dapat bersifat meristematik bila lingkungannya memungkinkan. Jaringan parenkim terutama terdapat pada bagian kulit batang dan akar, mesofil daun, daging buah, dan endosperma biji. Sel-sel parenkim juga tersebar pada jaringan lain, seperti pada parenkim xilem, parenkim floem, dan jari-jari empulur. Ciri utama sel parenkim adalah memiliki dinding sel yang tipis, serta lentur. Beberapa sel parenkim mengalami penebalan, seperti pada parenkim xilem. Sel parenkim berbentuk kubus atau memanjang dan mengandung vakuola sentral yang besar. Ciri khas parenkim yang lain adalah sel-selnya banyak memiliki ruang antarsel karena bentuk selnya membulat. Parenkim yang mempunyai ruang antarsel adalah daun. Ruang antarsel ini berfungsi sebagai sarana pertukaran gas antar klorenkim dengan udara luar. Sel parenkim memiliki banyak fungsi, yaitu untuk berlangsungnya proses fotosintesis, penyimpanan makanan dan fungsi metabolisme lain. Isi sel parenkim bervariasi sesuai dengan fungsinya, misalnya sel yang berfungsi untuk fotosintesis banyak mengandung kloroplas. Cadangan makanan yang terdapat pada sel parenkim berupa larutan dalam vakuola, cairan dalam plasma atau berupa kristal (amilum). Sel parenkim merupakan struktur sel yang jumlahnya paling banyak menyusun jaringan tumbuhan. Ciri penting dari sel parenkim adalah dapat membelah dan terspesialisasi menjadi berbagai jaringan yang memiliki fungsi khusus. Sel parenkim biasanya menyusun jaringan dasar pada tumbuhan, oleh karena itu jaringan parenkim disebut juga jaringan dasar.
3.      Jaringan penyokong(penguat).
Jaringan penyokong merupakan jaringan yang menguatkan tumbuhan. Berdasarkan bentuk dan sifatnya, jaringan penyokong dibedakan menjadi :
a.       Kolenkim : tersusun atas sel-sel hidup yang bentuknya memanjang dengan penebalan dinding sel yang tidak merata dan bersifat plastis, artinya mampu membentang, tetapi tidak dapat kembali seperti semula bila organnya tumbuh. Kolenkim terdapat pada batang, daun, bagian-bagian bunga, buah, dan akar. Sel kolenkim dapat mengandung kloroplas yang menyerupai sel-sel parenkim. Sel – sel kolenkim dindingnya terdiri atas selulosa.
b.      Sklerenkim : Sklerenkim merupakan jaringan penyokong tumbuhan, yang sel - selnya mengalami penebalan sekunder dengan lignin dan menunjukkan sifat elastis. Sklerenkim tersusun atas dua kelompok sel, yaitu sklereid dan serabut. Sklereid disebut juga sel batu yang terdiri atas sel - sel pendek, sedangkan serabut sel – selnya panjang. Sklereid berasal dari sel-sel parenkim, sedangkan serabut berasal dari sel - sel meristem. Sklereid terdapat di berbagai bagian tubuh. Sel – selnya membentuk jaringan yang keras, misalnya pada tempurung kelapa, kulit biji dan mesofil daun. Serabut berbentuk pita dengan anyaman menurut pola yang khas. Serabut sklerenkim banyak menyusun jaringan pengangkut.
4.      Jaringan pengangkut
Jaringan pengangkut terdiri dari :
a.       Xilem : Xilem merupakan jaringan kompleks karena tersusun dari beberapa tipe sel yang berbeda. Penyusun utamanya adalah trakeid dan trakea sebagai saluran pengangkut air dengan penebalan dinding sel yang cukup tebal sekaligus berfungsi sebagai penyokong. Xilem juga tersusun atas serabut, sklerenkim, serta sel-sel parenkim yang hidup dan berperan dalam berbagai kegiatan metabolisme sel. Xilem disebut juga sebagai pembuluh kayu yang membentuk kayu pada batang. Xilem berperan mengangkut air dan mineral dari dalam tanah ke daun.
b.      Floem : Pada prinsipnya, floem merupakan jaringan parenkim. Tersusun atas beberapa tipe sel yang berbeda, yaitu buluh tapis, sel pengiring, parenkim, serabut, dan sklerenkim. Floem juga dikenal sebagai pembuluh tapis, yang membentuk kulit kayu pada batang. floem berfungsi mengedarkan hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian tumbuhan.





 
BAHAN DAN METODE
Alat dan bahan
Alat
Alat yang di gunakan dalam pratikum ini adalah :
1.      Mikroskop, kaca benda dan kaca penutup
2.      Cutter/silet
3.      Kain planel
4.      Buku gambar, alat tulis dan pensil warna
Bahan
Bahan yang digunakan dalam pratikum ini adalah :
1.      Tanaman jagung (Zea mays)
2.      Tanaman kacang hijau (Vigna radiatus)
3.      Tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea L.)
4.      Tanaman kacang nagara/tunggak (Vigna unguiculata (L.) Walp)
Waktu dan tempat
            Pratikum ini dilaksanakan pada hari senin, 1 Oktober 2012, pada\ pukul 11.00-12.00 WITA, bertempat di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.

Prosedur kerja
1.      Menyiapkan mikroskop, kaca benda dan kaca penutup pada posisi yang tepat.
2.      Menyiapkan masing-masing preparat yang akan diamati di bawah mikroskop.
3.      Mengamati bentuk dan gambarkan hasil pengamatan dan lengkapi gambar dengan keterangan yang jelas.



 
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
A.    Jagung (Zea mays)
keterangan ;
1.      Bulu
2.      Epidermis
3.      Floem
4.      Xilem







B.     Tanaman kacang hijau (Vigna radiatus)
keterangan :
1.      Bulu
2.      Epidermis
3.      Floem
4.      Xilem








C.     Tanaman kacang tanah(Arachis hypogaea L.)

keterangan :
1.      Epidermis
2.      Floem
3.      Xilem











D.     Tanaman kacang nagara(Vigna unguiculata L.)


 

      Keterangan :
1.      Epidermis
2.      Floem
3.      Xilem













PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengamatan tampak adanya jaringan-jaringan pada batang tubuh tumbuhan, antara lain epidermis yang biasa disebut kulit luar, floem atau pembuluh tapis, xilem atau pembuluh kayu dan epidermis, ini menunjukkan bahwa pada akar, batang, dan daun pada tumbuhan memiliki jaringan didalamnya. Xilem dan floem disebut jaringan pengangkut yang terdapat pada berkas ikatan pembuluh. Berkas pembuluh yang bentuknya khas menghadap ke dalam disebut xilem. Tumbuhan diantara xilem dan floem terdapat kambium.
Jaringan-jaringan yang terdapat pada tumbuhan dikotil dan monokotil berbeda. Batang tanaman monokotil pada tanaman jagung terdiri atas tepi eksternal dan ditengah penuh empulur. Batang tanaman dikotil pada tanaman kacang tanah, kacang hijau dan kacang negara terdiri atas tiga daerah yaitu kulit, kayu, dan empulur.
Pada tanaman kacang hijau (Arachis hypogaea), kacang tanah (Vigna radiatus) dan kacang negara (Vigna unguiculata (L), terdapat lingkaran tahun sebagai akibat dari aktivitas kambium pada musim kemarau dan musim hujan. Sedangkan jagung (Zea mays) sama sekali tidak memiliki lingkaran tahun, akan tetapi jagung memiliki xilem dan floem yang letaknya menyebar
Ada perbedaan atara tanaman monokotil dan tanaman dikotil. Tanaman monokotil berakar serabut, batang antara ujung akar dengan kalpira jelas, partikel terdiri dari beberapa lapisan sel berdinding tebal, tidak memiliki cambium, letak berkas pengangkut tetap berselang seling. Batangnya tidak bercabang, pembuluh angkut tersebar, tidak memiliki jaringan empulur, tidak dapat di bedakan korteks dan empulur, mempunyai meristem interkela. Perpotongan daun sejajar atau melengkung dan tidak memiliki jaringan tiang.
Sedangkan tanaman dikotil berakar tunggal, batas antara ujung dengan kalpira tidak jelas, partikel terdiri dari suatu sel berdinding tebal, kambium tampak seperti maristem sekunder, letak berkas pengangkut tidak berselang seling. Batangnya bercabang pembuluh angkut teratur, ada cambium antara xilem dan floem, memiliki jaringan empulur, dapat dibedakan antar daerah korteks dan empulur, tidak mempunyai meristem interkalar. Perpotongan daun menjaring atau menyirip dan memiliki jaringan tiang.







 
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa :
1.    Jaringan adalah kumpulan sel-sel yang mempunyai struktur dan fungsi yang sama.
2.    Jaringan berdasarkan perkembangannya ada dua yaitu jaringan meristematis dan jaringan permanen.
3.    Jaringan permanen (dewasa) dibedakan atas :
1.    Jaringan pengangkut, terdiri dari xilem dan floem.
2.    Jaringan pelindung, terdiri dari epidermis dan gabus.
3.    Jaringat penguat, terdiri dari klerenkim dan sklerenkim.
4.    Jaringan parenkim.
Saran
Sebaiknya setiap pengamatan harus dilakukan dengan teliti untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Dalam memotong objek yang akan diamati haruslah tipis dan rapi. Bahan tanaman yang akan digunakan sebagai objek sekiranya berumur ± 3 minggu, agar jaringan yang ada di dalam tanaman tersebut dapat terlihat dengan jelas.




 
DAFTAR PUSTAKA
Edel, Anton. 2000. Pintar biologi. Jakarta: Gita media.
Estiti, Chidayah. 1995. Antomi tumbuhan berbiji. Bandung: ITB.
Haryati, Daroji. 2009. Jelajah fakta biologi 2. Jakarta: Tiga serangkai.
Kimball, J.W. 1983. Biologi jilid 1 edisi kelima. Jakarta: Erlangga.
Kimball, J.W. 1992. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Mader, S.S. 2004. Biologi. Boston: Mcgrow hill.
Pratiwi, dkk. 2006. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Saktiyono. 1999. Seribu pena biologi. Jakarta: Erlangga.
Winatasasmita, D. 1986. Fisiologi hewan dan tumbuhan. Jakarta: Karunika.
Yatim, Wildan. 1982. Biologi. Bandung: Tarsito.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar